Adab Berbeda Pendapat dalam Islam
Perbedaan pendapat adalah sunnatullah yang tidak dapat
dihindari dalam kehidupan manusia. Perbedaan muncul
karena latar belakang, pemahaman, pengalaman, dan
cara pandang yang beragam. Islam tidak melarang adanya
perbedaan pendapat, namun memberikan pedoman yang
jelas tentang adab dan etika dalam menyikapinya.
Banyak konflik sosial dan perpecahan umat bukan karena
perbedaan itu sendiri, melainkan karena hilangnya adab
dalam menyampaikan pendapat. Ketika ego mengalahkan
akhlak, perbedaan berubah menjadi permusuhan yang
merusak persaudaraan.
Landasan Al-Qur’an tentang Persatuan
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Artinya: “Berpegangteguhlah kamu semuanya kepada
tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini menegaskan bahwa persatuan umat harus dijaga
di atas nilai-nilai Islam. Perbedaan pendapat tidak boleh
menghancurkan ukhuwah, karena persaudaraan dalam
iman lebih utama daripada memenangkan argumen.
Landasan Hadis tentang Perbedaan
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ
وَإِذَا اجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ
Artinya: “Apabila seorang hakim berijtihad lalu benar,
maka baginya dua pahala; dan apabila ia berijtihad lalu
salah, maka baginya satu pahala.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa perbedaan hasil ijtihad
adalah hal yang wajar dan tetap bernilai pahala selama
dilakukan dengan niat yang ikhlas dan metode yang benar.
Karena itu, perbedaan tidak seharusnya disikapi dengan
celaan dan permusuhan.
Adab Berbeda Pendapat dalam Islam
(1) Meluruskan niat untuk mencari kebenaran, bukan mencari kemenangan atau popularitas.
(2) Menyampaikan pendapat dengan bahasa yang santun dan tidak merendahkan pihak lain.
(3) Menghormati pendapat orang lain meskipun tidak sependapat.
(4) Tidak mudah menuduh, mencela, atau memvonis sesat tanpa dasar yang jelas.
(5) Menjaga ukhuwah dan persaudaraan di atas perbedaan.
(1) Meluruskan niat untuk mencari kebenaran, bukan mencari kemenangan atau popularitas.
(2) Menyampaikan pendapat dengan bahasa yang santun dan tidak merendahkan pihak lain.
(3) Menghormati pendapat orang lain meskipun tidak sependapat.
(4) Tidak mudah menuduh, mencela, atau memvonis sesat tanpa dasar yang jelas.
(5) Menjaga ukhuwah dan persaudaraan di atas perbedaan.
Contoh Teladan Ulama dalam Berbeda Pendapat
Para ulama terdahulu memiliki perbedaan pendapat dalam
banyak masalah fiqih, namun mereka tetap saling
menghormati dan menjaga persaudaraan. Perbedaan
tidak menjadikan mereka saling memusuhi, melainkan
saling mendoakan dan menghargai keilmuan masing-masing.
Bahaya Hilangnya Adab dalam Perbedaan
Hilangnya adab dalam menyikapi perbedaan dapat
melahirkan kebencian, perpecahan, dan rusaknya citra
Islam sebagai agama rahmat. Perdebatan yang keras dan
tidak beretika seringkali menjauhkan manusia dari
kebenaran yang sebenarnya.
Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan
Menjaga ukhuwah berarti menempatkan persaudaraan
sebagai prioritas utama. Perbedaan pendapat harus
dikelola dengan dialog, musyawarah, dan sikap saling
memahami, bukan dengan emosi dan permusuhan.
Doa Agar Dijaga dalam Persatuan
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَاهْدِنَا لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ
مِنَ الْحَقِّ
Artinya: “Ya Allah, satukanlah hati kami dan tunjukilah
kami kepada kebenaran dalam perkara yang kami
perselisihkan.”
Semoga Allah SWT menjadikan kita umat yang dewasa
dalam menyikapi perbedaan, mampu menjaga adab,
memperkuat persaudaraan, dan selalu berada di jalan
kebenaran yang diridhai-Nya.
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri