10 Muharram (Hari ‘Asyura)
‘Asyura: Sekolah Iman, Kesabaran, dan Keadilan
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Adil, Maha Bijaksana,
dan Maha Mengetahui setiap perjalanan hidup manusia.
Allah menjadikan hari-hari tertentu sebagai pelajaran
besar bagi umat manusia, salah satunya adalah Hari
‘Asyura, tanggal 10 Muharram.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau,
para sahabat, dan seluruh umatnya yang menjadikan iman,
kesabaran, dan keadilan sebagai prinsip hidup.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Hari ‘Asyura bukan sekadar
hari puasa sunnah atau hari berbagi, tetapi hari pendidikan
iman. Pada hari ini Allah mengajarkan kepada umat manusia
bahwa iman akan diuji, kesabaran akan ditakar, dan
keadilan Allah pasti akan ditegakkan.
Jika umat Islam mampu memahami makna ‘Asyura dengan
benar, maka hari ini akan menjadi sekolah kehidupan
yang melahirkan pribadi-pribadi beriman, sabar, dan
berani berdiri di atas kebenaran.
‘Asyura: Iman yang Diuji dan Dikuatkan
Dalam sejarah para nabi, iman tidak pernah hadir tanpa
ujian. Hari ‘Asyura mengajarkan bahwa iman sejati adalah
iman yang tetap teguh meskipun berada di bawah tekanan,
ancaman, dan ketidakpastian.
Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam berdiri di depan laut,
sementara di belakangnya Fir’aun dan bala tentaranya
mendekat, secara logika tidak ada jalan keluar. Namun
iman Nabi Musa ‘alaihissalam tidak goyah sedikit pun.
Beliau tidak berkata, “Kita binasa,” tetapi berkata dengan
penuh keyakinan bahwa Allah tidak akan meninggalkan
hamba-Nya yang beriman dan taat.
كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
Artinya: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku
bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
(QS. Asy-Syu’ara: 62)
Inilah iman tingkat tinggi: iman yang tidak dikalahkan
oleh rasa takut, iman yang tidak runtuh oleh tekanan,
dan iman yang melahirkan ketenangan meskipun situasi
tampak gelap.
‘Asyura: Kesabaran sebagai Jalan Kemenangan
Hadirin yang dirahmati Allah, kesabaran bukan berarti
diam tanpa usaha. Kesabaran adalah keteguhan hati
dalam ketaatan, meskipun hasil belum terlihat.
Nabi Musa ‘alaihissalam dan Bani Israil bersabar dalam
penindasan yang panjang. Kesabaran itu tidak sia-sia.
Allah membalasnya dengan keselamatan dan kemenangan
yang tidak pernah mereka bayangkan.
Kesabaran juga tercermin dalam puasa ‘Asyura. Puasa
melatih jiwa untuk menahan keinginan, mengendalikan
emosi, dan menguatkan hubungan batin dengan Allah SWT.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan
diberi pahala tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)
Hari ‘Asyura mengingatkan bahwa kesabaran bukan jalan
yang mudah, tetapi jalan yang pasti berujung pada
pertolongan dan keadilan Allah SWT.
‘Asyura: Pelajaran Keadilan dan Kepedulian Sosial
Hadirin sekalian, Fir’aun adalah simbol kezaliman,
kesombongan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Allah
menenggelamkan Fir’aun bukan karena kekuatannya
lemah, tetapi karena kezalimannya telah melampaui batas.
Ini adalah pelajaran besar bahwa keadilan Allah tidak
pernah tidur. Setiap kezaliman, sekecil apa pun, pasti
akan dimintai pertanggungjawaban.
Hari ‘Asyura juga mengajarkan kepedulian sosial. Orang
beriman tidak boleh hidup hanya untuk dirinya sendiri,
tetapi harus hadir sebagai penolong bagi yang lemah,
yatim, dan dhuafa.
Rasulullah ﷺ mengaitkan kemuliaan iman dengan kepedulian
kepada anak yatim dan kaum lemah, sebagai bukti bahwa
iman bukan hanya urusan ritual, tetapi juga sosial.
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
Artinya: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim
akan bersama-sama di surga seperti ini.”
(HR. Bukhari)
Implementasi Nilai ‘Asyura dalam Kehidupan
(1) Meneguhkan iman di saat ujian hidup datang.
(2) Melatih kesabaran dalam ibadah dan muamalah.
(3) Menjauhi segala bentuk kezaliman dan kedzaliman kecil.
(4) Menumbuhkan kepedulian sosial dan empati.
(5) Menjadikan sejarah sebagai cermin perbaikan diri.
(1) Meneguhkan iman di saat ujian hidup datang.
(2) Melatih kesabaran dalam ibadah dan muamalah.
(3) Menjauhi segala bentuk kezaliman dan kedzaliman kecil.
(4) Menumbuhkan kepedulian sosial dan empati.
(5) Menjadikan sejarah sebagai cermin perbaikan diri.
Penutup dan Doa
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَنَا
وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ
وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَادِلِينَ
Artinya: “Ya Allah, teguhkanlah iman kami, karuniakanlah
kami kesabaran, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang
yang adil.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمَ عَاشُورَاءَ
نُقْطَةَ تَغْيِيرٍ فِي حَيَاتِنَا
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah Hari ‘Asyura sebagai titik
perubahan dalam kehidupan kami.”
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri