Home Playlist Login
Ceramah 29 Dec 2025

Cinta kepada Rasulullah dan Tanda-Tandanya dalam Kehidupan

Simpan
Cinta kepada Rasulullah ﷺ dan Tanda-Tandanya dalam Kehidupan (Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ)
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memuliakan kita dengan nikmat iman dan Islam, serta menghadirkan dalam sejarah umat manusia sosok manusia agung, Nabi Muhammad ﷺ.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau yang suci, para sahabat yang setia, serta seluruh umatnya yang menghidupkan sunnah beliau hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah, setiap kali Maulid Nabi ﷺ tiba, lisan kita ramai dengan shalawat, masjid dipenuhi jamaah, dan hati kita terharu ketika nama Rasulullah ﷺ disebut. Namun pertanyaan besarnya adalah:
Apakah cinta kita kepada Rasulullah ﷺ sudah benar-benar hidup dalam perilaku kita?
Karena cinta sejati bukan hanya di lisan, tetapi di sikap. Bukan hanya di majelis, tetapi di kehidupan nyata. Maulid Nabi ﷺ seharusnya menjadi momentum untuk mengukur kualitas cinta kita kepada Rasulullah ﷺ.
Hakikat Cinta kepada Rasulullah ﷺ
Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukanlah cinta biasa. Ia adalah cinta iman. Cinta yang menuntut konsekuensi. Tidak ada iman yang sempurna tanpa cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ.
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan untuk membandingkan cinta secara emosional, tetapi menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ harus menjadi standar nilai dalam hidup kita. Ketika perintah Nabi ﷺ bertentangan dengan hawa nafsu, maka cinta kepada Nabi ﷺ harus dimenangkan.
Cinta kepada Rasulullah ﷺ berarti mencintai apa yang beliau cintai dan membenci apa yang beliau benci. Mencintai kejujuran, membenci kedustaan. Mencintai akhlak mulia, membenci kezaliman.
Tanda-Tanda Cinta kepada Rasulullah ﷺ
Hadirin yang dimuliakan Allah, cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak diukur dari seberapa sering kita menyebut nama beliau, tetapi seberapa besar sunnah beliau hidup dalam diri kita.
Tanda pertama cinta kepada Nabi ﷺ adalah mengikuti sunnah beliau dalam akhlak. Rasulullah ﷺ adalah pribadi yang paling jujur, paling lembut, dan paling pemaaf.
Tanda kedua cinta kepada Nabi ﷺ adalah menjaga lisan. Beliau tidak pernah berkata kasar, tidak suka mencela, dan tidak gemar membuka aib orang lain. Jika lisan kita masih sering melukai, maka cinta itu perlu dipertanyakan.
Tanda ketiga cinta kepada Nabi ﷺ adalah menjaga persaudaraan. Rasulullah ﷺ sangat membenci perpecahan. Beliau menyatukan yang berbeda, bukan memecah yang sudah bersatu.
Tanda keempat cinta kepada Nabi ﷺ adalah kesungguhan dalam ibadah. Beliau berdiri lama dalam shalat malam, bukan karena kewajiban, tetapi karena cinta kepada Allah.
Inilah bukti cinta yang sejati. Jika cinta hanya berhenti pada perayaan Maulid, tetapi tidak berbuah perubahan, maka Maulid itu kehilangan ruhnya.
Maulid Nabi ﷺ dan Krisis Akhlak Zaman Ini
Hari ini kita menyaksikan krisis akhlak di mana-mana. Lisan mudah menghina, tangan mudah menyakiti, dan media sosial dipenuhi kebencian. Semua ini terjadi karena umat jauh dari teladan Rasulullah ﷺ.
Jika Maulid Nabi ﷺ tidak mampu memperbaiki akhlak umat, maka kita perlu bertanya: apakah kita benar-benar memahami Maulid atau hanya merayakannya?
Maulid Nabi ﷺ seharusnya melahirkan umat yang lebih lembut, lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli. Inilah misi Rasulullah ﷺ yang harus kita hidupkan kembali.
Penutup dan Doa
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا
Artinya: “Ya Allah, karuniakanlah kepada kami cinta kepada Nabi-Mu Muhammad ﷺ dan kemampuan untuk mengikuti sunnahnya lahir dan batin.”
اللَّهُمَّ أَحْيِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ فِي بُيُوتِنَا وَفِي أَخْلَاقِنَا وَفِي مُجْتَمَعِنَا
Artinya: “Ya Allah, hidupkanlah sunnah Nabi-Mu di rumah kami, dalam akhlak kami, dan dalam masyarakat kami.”
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Kembali ke Daftar

Diskusi

Ingin bergabung dalam diskusi?

Silakan login terlebih dahulu untuk menulis komentar.

Login Sekarang

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berbagi pemikiran!