Cinta kepada Rasulullah ﷺ
dan Tanda-Tandanya dalam Kehidupan
(Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ)
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang telah memuliakan kita dengan
nikmat iman dan Islam, serta menghadirkan dalam sejarah
umat manusia sosok manusia agung, Nabi Muhammad ﷺ.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
baginda Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau yang
suci, para sahabat yang setia, serta seluruh umatnya yang
menghidupkan sunnah beliau hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah, setiap kali Maulid Nabi ﷺ
tiba, lisan kita ramai dengan shalawat, masjid dipenuhi
jamaah, dan hati kita terharu ketika nama Rasulullah ﷺ
disebut. Namun pertanyaan besarnya adalah:
Apakah cinta kita kepada Rasulullah ﷺ sudah benar-benar
hidup dalam perilaku kita?
Karena cinta sejati bukan hanya di lisan, tetapi di sikap.
Bukan hanya di majelis, tetapi di kehidupan nyata.
Maulid Nabi ﷺ seharusnya menjadi momentum untuk
mengukur kualitas cinta kita kepada Rasulullah ﷺ.
Hakikat Cinta kepada Rasulullah ﷺ
Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukanlah cinta biasa. Ia adalah
cinta iman. Cinta yang menuntut konsekuensi. Tidak ada
iman yang sempurna tanpa cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ.
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ
مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara
kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya,
anaknya, dan seluruh manusia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan untuk membandingkan cinta secara
emosional, tetapi menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ harus
menjadi standar nilai dalam hidup kita. Ketika perintah
Nabi ﷺ bertentangan dengan hawa nafsu, maka cinta
kepada Nabi ﷺ harus dimenangkan.
Cinta kepada Rasulullah ﷺ berarti mencintai apa yang
beliau cintai dan membenci apa yang beliau benci.
Mencintai kejujuran, membenci kedustaan. Mencintai
akhlak mulia, membenci kezaliman.
Tanda-Tanda Cinta kepada Rasulullah ﷺ
Hadirin yang dimuliakan Allah, cinta kepada Rasulullah ﷺ
tidak diukur dari seberapa sering kita menyebut nama
beliau, tetapi seberapa besar sunnah beliau hidup dalam
diri kita.
Tanda pertama cinta kepada Nabi ﷺ adalah mengikuti
sunnah beliau dalam akhlak. Rasulullah ﷺ adalah pribadi
yang paling jujur, paling lembut, dan paling pemaaf.
Tanda kedua cinta kepada Nabi ﷺ adalah menjaga lisan.
Beliau tidak pernah berkata kasar, tidak suka mencela,
dan tidak gemar membuka aib orang lain. Jika lisan kita
masih sering melukai, maka cinta itu perlu dipertanyakan.
Tanda ketiga cinta kepada Nabi ﷺ adalah menjaga
persaudaraan. Rasulullah ﷺ sangat membenci perpecahan.
Beliau menyatukan yang berbeda, bukan memecah yang
sudah bersatu.
Tanda keempat cinta kepada Nabi ﷺ adalah kesungguhan
dalam ibadah. Beliau berdiri lama dalam shalat malam,
bukan karena kewajiban, tetapi karena cinta kepada Allah.
Inilah bukti cinta yang sejati. Jika cinta hanya berhenti
pada perayaan Maulid, tetapi tidak berbuah perubahan,
maka Maulid itu kehilangan ruhnya.
Maulid Nabi ﷺ dan Krisis Akhlak Zaman Ini
Hari ini kita menyaksikan krisis akhlak di mana-mana.
Lisan mudah menghina, tangan mudah menyakiti, dan
media sosial dipenuhi kebencian. Semua ini terjadi karena
umat jauh dari teladan Rasulullah ﷺ.
Jika Maulid Nabi ﷺ tidak mampu memperbaiki akhlak
umat, maka kita perlu bertanya: apakah kita benar-benar
memahami Maulid atau hanya merayakannya?
Maulid Nabi ﷺ seharusnya melahirkan umat yang lebih
lembut, lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli.
Inilah misi Rasulullah ﷺ yang harus kita hidupkan kembali.
Penutup dan Doa
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ
وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا
Artinya: “Ya Allah, karuniakanlah kepada kami cinta
kepada Nabi-Mu Muhammad ﷺ dan kemampuan untuk
mengikuti sunnahnya lahir dan batin.”
اللَّهُمَّ أَحْيِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ فِي بُيُوتِنَا
وَفِي أَخْلَاقِنَا
وَفِي مُجْتَمَعِنَا
Artinya: “Ya Allah, hidupkanlah sunnah Nabi-Mu di rumah
kami, dalam akhlak kami, dan dalam masyarakat kami.”
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri