Tahun Baru Hijriyah
Hijrah sebagai Perubahan Mental, Akhlak, dan Arah Hidup
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang masih mempertemukan kita dengan
pergantian waktu, pergantian tahun, dan pergantian usia.
Semua itu adalah tanda bahwa Allah masih memberi kita
kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada-Nya.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, sosok manusia agung
yang melalui peristiwa hijrah telah mengajarkan kepada
umat Islam makna perubahan, pengorbanan, dan perjuangan
demi mempertahankan iman.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Tahun Baru Hijriyah bukan
sekadar pergantian angka kalender. Ia adalah pengingat
sejarah besar umat Islam: hijrahnya Rasulullah ﷺ dari
Makkah ke Madinah, sebuah peristiwa yang mengubah arah
peradaban dunia.
Oleh karena itu, Tahun Baru Islam seharusnya menjadi
momentum muhasabah: sudahkah hidup kita hari ini lebih
baik dari tahun sebelumnya, atau justru sebaliknya?
Hijrah Rasulullah ﷺ: Bukan Lari, tetapi Strategi Iman
Hijrah Rasulullah ﷺ bukanlah bentuk pelarian dari tekanan,
tetapi strategi besar untuk menyelamatkan akidah dan
membangun kekuatan umat. Di Makkah, kaum muslimin
mengalami penindasan, intimidasi, dan ancaman nyawa.
Namun hijrah tidak dilakukan dengan tergesa-gesa.
Rasulullah ﷺ menyiapkan segala sesuatu dengan matang:
memilih pendamping hijrah, menyiapkan rute, dan tetap
bertawakal sepenuhnya kepada Allah SWT.
إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Artinya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah
bersama kita.”
(QS. At-Taubah: 40)
Ayat ini mengajarkan bahwa hijrah adalah perpaduan antara
ikhtiar maksimal dan tawakal total. Tanpa hijrah, Islam
tidak akan berkembang menjadi peradaban yang kokoh.
Hijrah Batin: Dari Buruk Menuju Baik
Hadirin yang dirahmati Allah, hijrah tidak berhenti pada
perpindahan fisik Rasulullah ﷺ. Hijrah sejati adalah
perpindahan hati dan perilaku: dari maksiat menuju taat,
dari lalai menuju sadar, dari gelap menuju terang.
Banyak orang mengaku berhijrah, tetapi hijrah hanya
berubah penampilan, sementara akhlak, kejujuran, dan
tanggung jawab masih jauh dari nilai Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa hijrah sejati adalah
meninggalkan segala larangan Allah SWT dan berusaha
menjadi pribadi yang lebih baik setiap waktu.
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Artinya: “Orang yang berhijrah adalah orang yang
meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”
(HR. Bukhari)
Maka Tahun Baru Hijriyah harus melahirkan hijrah dalam
shalat, hijrah dalam akhlak, hijrah dalam muamalah,
dan hijrah dalam cara kita memandang kehidupan.
Hijrah di Tengah Tantangan Zaman
Hari ini umat Islam menghadapi tantangan besar:
godaan dunia, krisis moral, perpecahan, dan lemahnya
kepedulian sosial. Hijrah menjadi sangat relevan sebagai
jalan memperbaiki diri dan masyarakat.
Hijrah menuntut keberanian untuk berubah. Berani
meninggalkan kebiasaan buruk, lingkungan yang merusak,
dan pola pikir yang menjauhkan diri dari Allah SWT.
Jika setiap individu berhijrah menuju kebaikan, maka
masyarakat akan berubah. Dan jika masyarakat berubah,
maka umat akan kembali kuat dan bermartabat.
Langkah Praktis Hijrah di Tahun Baru Islam
(1) Memperbaiki shalat dan hubungan dengan Allah.
(2) Menjaga lisan dan akhlak dalam pergaulan.
(3) Meningkatkan kepedulian sosial dan ukhuwah.
(4) Menuntut ilmu dan mendekat kepada Al-Qur’an.
(5) Menjadikan setiap hari lebih baik dari hari kemarin.
(1) Memperbaiki shalat dan hubungan dengan Allah.
(2) Menjaga lisan dan akhlak dalam pergaulan.
(3) Meningkatkan kepedulian sosial dan ukhuwah.
(4) Menuntut ilmu dan mendekat kepada Al-Qur’an.
(5) Menjadikan setiap hari lebih baik dari hari kemarin.
Penutup dan Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلْ هِجْرَتَنَا إِلَيْكَ صَادِقَةً
وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hijrah kami kepada-Mu
sebagai hijrah yang tulus dan perbaikilah keadaan kami.”
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا
وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى
Artinya: “Ya Allah, berkahilah umur kami dan akhirilah
hidup kami dengan kebaikan.”
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri