Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ
Shalat sebagai Tiang Kehidupan
dan Jalan Kedekatan kepada Allah
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang telah memperjalankan hamba-Nya
Nabi Muhammad ﷺ dalam peristiwa agung Isra dan Mi’raj,
sebuah perjalanan luar biasa yang penuh hikmah dan
pelajaran mendalam bagi umat Islam sepanjang zaman.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, manusia pilihan yang
Allah muliakan dengan amanah risalah dan ibadah shalat
sebagai hadiah langsung dari langit.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Isra Mi’raj bukan hanya
kisah menakjubkan tentang perjalanan Nabi ﷺ dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu naik ke Sidratul
Muntaha, tetapi peristiwa ini adalah peneguhan bahwa
shalat adalah urusan paling penting dalam kehidupan
seorang muslim.
Isra Mi’raj Terjadi di Saat Ujian Terberat
Isra Mi’raj tidak terjadi dalam kondisi Rasulullah ﷺ
berada di puncak kejayaan, tetapi justru setelah beliau
mengalami masa paling berat dalam dakwah, yang dikenal
sebagai ‘Aamul Huzn, tahun kesedihan.
Rasulullah ﷺ kehilangan dua penopang utama dakwah:
istri tercinta Khadijah radhiyallahu ‘anha dan paman
pelindung Abu Thalib. Beliau juga mengalami penolakan
dan kekerasan di Thaif.
Di tengah luka batin dan kesedihan itulah Allah SWT
memanggil Rasulullah ﷺ menghadap-Nya. Ini adalah
pelajaran bahwa ketika manusia berada di titik terendah,
shalat adalah jalan penguatan dan penghiburan.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا
مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
Artinya: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan
hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke
Masjidil Aqsha.”
(QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Isra Mi’raj adalah kehendak
Allah, bukan khayalan, dan terjadi untuk menguatkan
hati Rasulullah ﷺ dan umatnya.
Shalat: Satu-satunya Ibadah dari Langit
Dalam peristiwa Mi’raj, Rasulullah ﷺ menerima perintah
shalat secara langsung dari Allah SWT, tanpa perantara
malaikat Jibril. Ini menunjukkan betapa agung dan
pentingnya shalat dalam Islam.
Pada awalnya, shalat diwajibkan lima puluh kali sehari
semalam, kemudian diringankan menjadi lima waktu
namun dengan pahala lima puluh. Ini adalah bentuk
kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.
Shalat bukan beban, tetapi kebutuhan ruhani. Shalat
adalah sarana komunikasi langsung antara hamba dan
Tuhannya. Ketika shalat ditinggalkan, maka runtuhlah
hubungan itu.
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ
Artinya: “Shalat adalah tiang agama.”
(HR. Baihaqi)
Jika tiang roboh, maka bangunan akan runtuh. Begitu pula
jika shalat ditinggalkan, maka iman dan kehidupan
seseorang akan rapuh.
Isra Mi’raj dan Krisis Kehidupan Modern
Hadirin yang dirahmati Allah, banyak krisis yang melanda
umat hari ini: krisis akhlak, krisis keluarga, krisis
kejujuran, dan krisis ketenangan batin. Semua ini salah
satunya bersumber dari jauhnya manusia dari shalat.
Shalat yang benar seharusnya mencegah perbuatan keji
dan mungkar. Jika shalat tidak berpengaruh pada akhlak,
maka yang perlu diperbaiki adalah kualitas shalat itu
sendiri.
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
Artinya: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa solusi umat bukan hanya
pada strategi duniawi, tetapi pada penguatan hubungan
dengan Allah melalui shalat yang khusyuk dan konsisten.
Penutup dan Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الصَّلَاةَ قُرَّةَ أَعْيُنِنَا
وَثَبِّتْنَا عَلَيْهَا
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah shalat sebagai penyejuk
mata kami dan tetapkanlah kami di atasnya.”
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا
وَارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ
وَاجْمَعْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
Artinya: “Ya Allah, perbaikilah keadaan kami, angkatlah
musibah dari kami, dan satukanlah hati kami dalam
ketaatan kepada-Mu.”
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri