Home Playlist Login
Ceramah 29 Dec 2025

Kemenangan Orang Beriman melalui Kesabaran dan Ketaatan

Simpan
10 Muharram (Hari ‘Asyura) Kemenangan Orang Beriman melalui Kesabaran dan Ketaatan
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menjadikan waktu sebagai media pendidikan bagi manusia, dan menjadikan hari-hari tertentu sebagai momentum untuk mengambil pelajaran besar dalam perjalanan iman.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh umatnya yang menjadikan sejarah sebagai cermin untuk memperbaiki masa depan.
Hadirin yang dimuliakan Allah, tanggal 10 Muharram atau Hari ‘Asyura bukan sekadar tanggal dalam kalender Islam. Ia adalah hari penuh makna, hari ujian, hari kesabaran, dan hari kemenangan bagi orang-orang yang teguh memegang iman dan ketaatan kepada Allah SWT.
‘Asyura mengajarkan kepada kita bahwa pertolongan Allah tidak datang secara instan, tetapi hadir setelah kesabaran yang panjang, doa yang tulus, dan keteguhan dalam menjalani perintah-Nya.
‘Asyura: Hari Keselamatan dan Ujian Iman
Dalam sejarah Islam, Hari ‘Asyura dikaitkan dengan banyak peristiwa besar para nabi. Di antaranya adalah diselamatkannya Nabi Musa ‘alaihissalam dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa ketika kezaliman mencapai puncaknya, pertolongan Allah justru datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Laut terbelah, jalan keselamatan terbuka, dan kezaliman ditenggelamkan.
فَأَنْجَيْنَا مُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ
Artinya: “Maka Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya semuanya.” (QS. Asy-Syu’ara: 65)
Keselamatan ini bukan datang karena kekuatan manusia, tetapi karena kesabaran dan keyakinan Nabi Musa ‘alaihissalam kepada pertolongan Allah SWT.
‘Asyura mengajarkan bahwa orang beriman tidak boleh putus asa, meskipun secara logika jalan terasa tertutup. Selama Allah bersama kita, selalu ada jalan keluar.
Puasa ‘Asyura: Latihan Kesabaran dan Syukur
Hadirin yang dirahmati Allah, Rasulullah ﷺ menjadikan puasa ‘Asyura sebagai bentuk syukur atas pertolongan Allah kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dan kaumnya.
Puasa ‘Asyura bukan hanya ibadah sunnah, tetapi sarana pendidikan jiwa. Ia melatih kesabaran, menahan hawa nafsu, dan menumbuhkan empati kepada orang-orang yang kekurangan.
Rasulullah ﷺ menyampaikan keutamaan besar puasa ini, yaitu penghapusan dosa setahun yang lalu, sebagai bentuk rahmat Allah kepada hamba-Nya yang taat.
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Artinya: “Puasa pada hari ‘Asyura dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)
Namun Rasulullah ﷺ juga mengajarkan adab dalam melaksanakan puasa ‘Asyura, yaitu dengan menambah puasa sehari sebelumnya atau sesudahnya, agar umat Islam memiliki identitas yang khas.
Puasa adalah ibadah yang tersembunyi, tidak terlihat oleh manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah SWT. Maka ‘Asyura adalah momentum memperbaiki hubungan batin kita dengan Allah.
‘Asyura dan Pendidikan Akhlak Sosial
Hari ‘Asyura juga mengajarkan pentingnya kepedulian sosial. Dalam tradisi umat Islam, hari ini dijadikan momentum untuk menyantuni anak yatim dan membantu kaum dhuafa.
Kepedulian sosial adalah bukti bahwa iman tidak hanya hidup di masjid, tetapi juga hidup dalam sikap dan tindakan nyata kepada sesama manusia.
Rasulullah ﷺ menempatkan orang yang memelihara anak yatim pada kedudukan yang sangat mulia, bahkan dekat dengan beliau di surga.
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ
Artinya: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan bersama-sama di surga seperti ini.” (HR. Bukhari)
‘Asyura seharusnya menjadi momentum pendidikan umat agar lebih peka, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab terhadap penderitaan sesama, bukan hanya pada satu hari, tetapi sepanjang tahun.
Amal Praktis di Hari ‘Asyura
(1) Melaksanakan puasa ‘Asyura dan Tasu’a.
(2) Memperbanyak zikir, doa, dan istighfar.
(3) Menyantuni anak yatim dan fakir miskin.
(4) Menanamkan nilai kesabaran dalam keluarga.
(5) Mengambil pelajaran dari sejarah para nabi.
Penutup dan Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ وَالْمُتَوَكِّلِينَ عَلَيْكَ
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang sabar dan bertawakal kepada-Mu.”
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا وَزَكِّ أَعْمَالَنَا وَاجْمَعْ كَلِمَتَنَا عَلَى الْخَيْرِ
Artinya: “Ya Allah, bersihkanlah hati kami, sucikanlah amal-amal kami, dan satukanlah kami dalam kebaikan.”
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Kembali ke Daftar

Diskusi

Ingin bergabung dalam diskusi?

Silakan login terlebih dahulu untuk menulis komentar.

Login Sekarang

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berbagi pemikiran!