10 Muharram (Hari ‘Asyura)
Kemenangan Orang Beriman
melalui Kesabaran dan Ketaatan
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang telah menjadikan waktu sebagai
media pendidikan bagi manusia, dan menjadikan hari-hari
tertentu sebagai momentum untuk mengambil pelajaran
besar dalam perjalanan iman.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau,
para sahabat, serta seluruh umatnya yang menjadikan
sejarah sebagai cermin untuk memperbaiki masa depan.
Hadirin yang dimuliakan Allah, tanggal 10 Muharram atau
Hari ‘Asyura bukan sekadar tanggal dalam kalender Islam.
Ia adalah hari penuh makna, hari ujian, hari kesabaran,
dan hari kemenangan bagi orang-orang yang teguh
memegang iman dan ketaatan kepada Allah SWT.
‘Asyura mengajarkan kepada kita bahwa pertolongan Allah
tidak datang secara instan, tetapi hadir setelah kesabaran
yang panjang, doa yang tulus, dan keteguhan dalam
menjalani perintah-Nya.
‘Asyura: Hari Keselamatan dan Ujian Iman
Dalam sejarah Islam, Hari ‘Asyura dikaitkan dengan banyak
peristiwa besar para nabi. Di antaranya adalah
diselamatkannya Nabi Musa ‘alaihissalam dan Bani Israil
dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa ketika kezaliman
mencapai puncaknya, pertolongan Allah justru datang
dari arah yang tidak disangka-sangka. Laut terbelah,
jalan keselamatan terbuka, dan kezaliman ditenggelamkan.
فَأَنْجَيْنَا مُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ
Artinya: “Maka Kami selamatkan Musa dan orang-orang
yang bersamanya semuanya.”
(QS. Asy-Syu’ara: 65)
Keselamatan ini bukan datang karena kekuatan manusia,
tetapi karena kesabaran dan keyakinan Nabi Musa
‘alaihissalam kepada pertolongan Allah SWT.
‘Asyura mengajarkan bahwa orang beriman tidak boleh
putus asa, meskipun secara logika jalan terasa tertutup.
Selama Allah bersama kita, selalu ada jalan keluar.
Puasa ‘Asyura: Latihan Kesabaran dan Syukur
Hadirin yang dirahmati Allah, Rasulullah ﷺ menjadikan
puasa ‘Asyura sebagai bentuk syukur atas pertolongan
Allah kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dan kaumnya.
Puasa ‘Asyura bukan hanya ibadah sunnah, tetapi sarana
pendidikan jiwa. Ia melatih kesabaran, menahan hawa
nafsu, dan menumbuhkan empati kepada orang-orang
yang kekurangan.
Rasulullah ﷺ menyampaikan keutamaan besar puasa ini,
yaitu penghapusan dosa setahun yang lalu, sebagai
bentuk rahmat Allah kepada hamba-Nya yang taat.
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Artinya: “Puasa pada hari ‘Asyura dapat menghapus dosa
setahun yang telah lalu.”
(HR. Muslim)
Namun Rasulullah ﷺ juga mengajarkan adab dalam
melaksanakan puasa ‘Asyura, yaitu dengan menambah
puasa sehari sebelumnya atau sesudahnya, agar umat
Islam memiliki identitas yang khas.
Puasa adalah ibadah yang tersembunyi, tidak terlihat oleh
manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah SWT. Maka
‘Asyura adalah momentum memperbaiki hubungan batin
kita dengan Allah.
‘Asyura dan Pendidikan Akhlak Sosial
Hari ‘Asyura juga mengajarkan pentingnya kepedulian
sosial. Dalam tradisi umat Islam, hari ini dijadikan
momentum untuk menyantuni anak yatim dan membantu
kaum dhuafa.
Kepedulian sosial adalah bukti bahwa iman tidak hanya
hidup di masjid, tetapi juga hidup dalam sikap dan
tindakan nyata kepada sesama manusia.
Rasulullah ﷺ menempatkan orang yang memelihara anak
yatim pada kedudukan yang sangat mulia, bahkan dekat
dengan beliau di surga.
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ
Artinya: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim
akan bersama-sama di surga seperti ini.”
(HR. Bukhari)
‘Asyura seharusnya menjadi momentum pendidikan umat
agar lebih peka, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab
terhadap penderitaan sesama, bukan hanya pada satu
hari, tetapi sepanjang tahun.
Amal Praktis di Hari ‘Asyura
(1) Melaksanakan puasa ‘Asyura dan Tasu’a.
(2) Memperbanyak zikir, doa, dan istighfar.
(3) Menyantuni anak yatim dan fakir miskin.
(4) Menanamkan nilai kesabaran dalam keluarga.
(5) Mengambil pelajaran dari sejarah para nabi.
(1) Melaksanakan puasa ‘Asyura dan Tasu’a.
(2) Memperbanyak zikir, doa, dan istighfar.
(3) Menyantuni anak yatim dan fakir miskin.
(4) Menanamkan nilai kesabaran dalam keluarga.
(5) Mengambil pelajaran dari sejarah para nabi.
Penutup dan Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ
وَالْمُتَوَكِّلِينَ عَلَيْكَ
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang
yang sabar dan bertawakal kepada-Mu.”
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا
وَزَكِّ أَعْمَالَنَا
وَاجْمَعْ كَلِمَتَنَا عَلَى الْخَيْرِ
Artinya: “Ya Allah, bersihkanlah hati kami, sucikanlah
amal-amal kami, dan satukanlah kami dalam kebaikan.”
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri