Nishfu Sya’ban
Malam Evaluasi Amal dan Rekonsiliasi Hati
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mengetahui apa yang
tampak dan tersembunyi, yang mencatat setiap amal,
setiap niat, dan setiap gerak hati manusia tanpa satu
pun yang terlewat.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
Nabi Muhammad ﷺ, manusia paling jujur amalnya,
paling bersih hatinya, dan paling takut kepada hisab
di hadapan Allah SWT.
Hadirin yang dimuliakan Allah, malam Nishfu Sya’ban
adalah malam keheningan. Malam ketika manusia
seharusnya berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia,
lalu menundukkan hati untuk bertanya dengan jujur:
bagaimana catatan amal kita selama ini?
Nishfu Sya’ban bukan sekadar malam ibadah tambahan,
tetapi malam evaluasi besar sebelum memasuki bulan
Ramadhan. Barang siapa yang lalai di malam ini, ia
dikhawatirkan memasuki Ramadhan dengan hati yang
masih kotor dan beban dosa yang berat.
Nishfu Sya’ban dan Catatan Amal Manusia
Sebagian ulama menjelaskan bahwa bulan Sya’ban adalah
bulan diangkatnya catatan amal tahunan kepada Allah
SWT. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ sangat menyukai
memperbanyak puasa dan ibadah di bulan ini.
Beliau ingin ketika catatan amalnya diangkat, beliau
dalam keadaan beribadah, tunduk, dan dekat kepada
Allah SWT. Ini mengajarkan kepada kita betapa pentingnya
menyambut Nishfu Sya’ban dengan kesadaran penuh.
ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ
وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ
إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia,
padahal pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Tuhan
seluruh alam.”
(HR. An-Nasa’i)
Jika catatan amal kita diangkat dalam keadaan hati penuh
dendam, lisan penuh dusta, dan shalat penuh kelalaian,
maka betapa ruginya kita di hadapan Allah SWT.
Nishfu Sya’ban dan Rekonsiliasi Hati
Hadirin yang dirahmati Allah, salah satu penghalang
ampunan Allah di malam Nishfu Sya’ban adalah hati
yang dipenuhi permusuhan. Dosa sosial sering kali lebih
berat daripada dosa pribadi.
Banyak orang rajin shalat dan puasa, tetapi menyimpan
kebencian bertahun-tahun. Ia lupa bahwa Allah tidak
mencintai hati yang keras dan enggan memaafkan.
Nishfu Sya’ban adalah malam rekonsiliasi. Malam untuk
berani berkata: *“Aku memaafkan,”* meskipun hati masih
berat. Karena memaafkan bukan untuk orang lain,
tetapi untuk keselamatan diri sendiri.
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا
أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
Artinya: “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang
dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampuni kamu?”
(QS. An-Nur: 22)
Barang siapa memaafkan karena Allah, maka Allah akan
memberinya ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan
apa pun di dunia ini.
Nishfu Sya’ban sebagai Titik Balik Kehidupan
Hadirin sekalian, Nishfu Sya’ban adalah momen menentukan
arah hidup. Apakah kita akan melanjutkan kebiasaan lama,
atau memulai lembaran baru dengan niat yang lebih lurus.
Ramadhan bukanlah bulan untuk orang yang malas
bertaubat. Ramadhan adalah bulan untuk orang yang
sudah menyiapkan hatinya sejak Sya’ban.
Maka malam Nishfu Sya’ban adalah malam keputusan:
apakah kita serius berubah, atau sekadar mengikuti
tradisi tanpa makna.
Langkah Nyata di Malam Nishfu Sya’ban
(1) Muhasabah diri secara jujur dan mendalam.
(2) Memperbanyak istighfar dan taubat nasuha.
(3) Memaafkan dan meminta maaf kepada sesama.
(4) Memperbaiki niat menyambut Ramadhan.
(5) Berdoa dengan penuh harap dan kerendahan hati.
(1) Muhasabah diri secara jujur dan mendalam.
(2) Memperbanyak istighfar dan taubat nasuha.
(3) Memaafkan dan meminta maaf kepada sesama.
(4) Memperbaiki niat menyambut Ramadhan.
(5) Berdoa dengan penuh harap dan kerendahan hati.
Penutup dan Doa
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا
وَتَقَبَّلْ أَعْمَالَنَا
وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا
Artinya: “Ya Allah, bersihkanlah hati kami, terimalah
amal-amal kami, dan ampunilah dosa-dosa kami.”
اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ
وَنَحْنُ فِي أَحْسَنِ الْحَالِ
Artinya: “Ya Allah, sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan
dalam keadaan sebaik-baik kondisi.”
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri