Nishfu Sya’ban
Malam Penyerahan Diri, Takdir,
dan Harapan Baru
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah
Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan yang menggenggam takdir,
menentukan umur, rezeki, pertemuan, dan perpisahan.
Tidak satu pun terjadi di dunia ini kecuali dengan izin
dan kehendak-Nya.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
Nabi Muhammad ﷺ, hamba Allah yang paling mengenal
makna tunduk, pasrah, dan berharap kepada Rabb-nya
dalam setiap keadaan.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Nishfu Sya’ban adalah
malam yang membuat hati orang beriman bergetar.
Karena pada malam ini, manusia diingatkan bahwa hidup
bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang apa yang
telah ditulis untuk esok dan lusa.
Malam Nishfu Sya’ban adalah malam penyerahan diri.
Malam ketika manusia berkata jujur kepada Rabb-nya:
“Ya Allah, aku lemah, aku penuh dosa, dan aku tidak tahu
apa yang akan terjadi esok hari.”
Nishfu Sya’ban dan Kesadaran tentang Takdir
Hadirin yang dirahmati Allah, salah satu pelajaran besar
dari Nishfu Sya’ban adalah kesadaran tentang takdir.
Bahwa hidup manusia berada dalam ketentuan Allah SWT,
bukan sepenuhnya dalam kendali manusia.
Berapa umur kita, kapan kita dipanggil pulang, di mana
kita wafat, dan dalam keadaan apa kita menghadap Allah,
semuanya telah tertulis di Lauhul Mahfuzh.
Kesadaran ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk
membangunkan hati agar tidak sombong, tidak lalai, dan
tidak menunda taubat.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Artinya: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan
kematian, kemudian kepada Kami kamu dikembalikan.”
(QS. Al-‘Ankabut: 57)
Nishfu Sya’ban mengingatkan bahwa boleh jadi, ini adalah
malam terakhir kita bertemu dengan bulan Sya’ban.
Siapa yang sadar akan kematian, ia akan serius
memperbaiki hidupnya.
Nishfu Sya’ban: Rezeki dan Doa Orang Beriman
Hadirin sekalian, banyak manusia gelisah karena rezeki.
Padahal rezeki tidak hanya berupa harta, tetapi juga
kesehatan, keluarga, ketenangan, dan iman.
Nishfu Sya’ban adalah malam untuk menyerahkan urusan
rezeki kepada Allah SWT. Manusia wajib berusaha,
tetapi hati tidak boleh bergantung kepada usaha.
Doa di malam Nishfu Sya’ban adalah doa orang yang
mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa tanpa
pertolongan Allah.
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي
عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ
شَقِيًّا فَامْحُنِي
وَاكْتُبْنِي سَعِيدًا
Artinya: “Ya Allah, jika Engkau telah menuliskanku di sisi-Mu
dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka, maka
hapuskanlah dan tulislah aku sebagai orang yang bahagia.”
Doa ini bukan menentang takdir, tetapi bentuk kerendahan
hati seorang hamba yang berharap kebaikan dari Allah
Yang Maha Pengasih.
Nishfu Sya’ban sebagai Gerbang Harapan Baru
Hadirin yang dirahmati Allah, Nishfu Sya’ban adalah
gerbang terakhir sebelum Ramadhan. Siapa yang masuk
gerbang ini dengan hati bersih, ia akan melangkah ke
Ramadhan dengan ringan dan penuh semangat.
Harapan terbesar orang beriman bukan panjang umur,
tetapi umur yang diberkahi. Bukan banyak harta,
tetapi harta yang membawa ketaatan.
Maka Nishfu Sya’ban adalah malam untuk menyusun
harapan baru: harapan menjadi hamba yang lebih taat,
lebih jujur, lebih sabar, dan lebih bermanfaat.
Amal Nyata di Malam Nishfu Sya’ban
(1) Shalat malam dengan khusyuk dan tenang.
(2) Membaca Al-Qur’an dan merenungi maknanya.
(3) Memperbanyak istighfar dan shalawat.
(4) Berdoa untuk umur, rezeki, dan husnul khatimah.
(5) Menyiapkan niat kuat menyambut Ramadhan.
(1) Shalat malam dengan khusyuk dan tenang.
(2) Membaca Al-Qur’an dan merenungi maknanya.
(3) Memperbanyak istighfar dan shalawat.
(4) Berdoa untuk umur, rezeki, dan husnul khatimah.
(5) Menyiapkan niat kuat menyambut Ramadhan.
Penutup dan Doa
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا أَعْمَارَنَا بِخَيْرٍ
وَاجْعَلْ مَا بَقِيَ مِنْ أَعْمَارِنَا
فِي طَاعَتِكَ
Artinya: “Ya Allah, akhirilah umur kami dengan kebaikan
dan jadikan sisa umur kami dalam ketaatan kepada-Mu.”
اللَّهُمَّ سَلِّمْنَا إِلَى رَمَضَانَ
وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لَنَا
وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلًا
Artinya: “Ya Allah, sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan,
sampaikan Ramadhan kepada kami, dan terimalah
amalan kami di dalamnya.”
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri