Dalil & Referensi
Alhamdulillahilladzi anzala 'ala abdihil kitab, walam yaj'al lahu 'iwaja. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in. Amma ba'du.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, karena sesungguhnya takwa adalah sebaik-baik bekal menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam." (QS. Ali Imran: 102)
Dan Allah SWT juga berfirman, mengingatkan kita akan fitrah kehidupan yang penuh ujian:
Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 155-157)
Khutbah Pertama
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kehidupan adalah sebuah perjalanan. Di dalamnya, kita akan menemui berbagai episode, ada suka dan duka, tawa dan air mata, kelapangan dan kesempitan. Tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang luput dari ujian dan cobaan. Ujian adalah sunnatullah, sebuah ketetapan ilahi yang akan senantiasa menyertai langkah kehidupan kita, sebagaimana firman Allah yang telah kita dengar bersama tadi.
Lalu, bagaimana kita menyikapi ujian tersebut? Apakah kita akan menyerah, larut dalam kesedihan, atau bangkit dengan kekuatan iman dan ketenangan hati? Di sinilah peran penting dari ‘menata hati’. Hati adalah raja, ia adalah poros segala amal dan penentu arah jiwa. Apabila hati kita tertata dengan baik, maka seberat apapun ujian yang datang, ia akan mampu kita hadapi dengan ketabahan dan bahkan menjadi tangga menuju derajat yang lebih tinggi di sisi Allah SWT.
1. Sadari Ujian Adalah Cara Allah Meninggikan Derajat
Setiap ujian, baik yang menimpa harta, kesehatan, keluarga, maupun pekerjaan, adalah bagian dari skenario ilahi. Allah tidak membebani hamba-Nya melainkan sesuai kesanggupannya. Ujian-ujian ini bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menguji keimanan, membersihkan dosa, dan mengangkat derajat kita. Mereka yang bersabar dan ridha akan ujian, sesungguhnya sedang menabung pahala yang tak terhingga.
2. Kuatkan Kesabaran dan Ketabahan
Sabar bukanlah diam tanpa upaya, melainkan bertahan dalam ketaatan di tengah kesulitan, menahan diri dari keluh kesah, dan tetap berprasangka baik kepada Allah. Kesabaran adalah pilar utama dalam menata hati. Ketika musibah datang, jangan biarkan hati kita dikuasai kepanikan atau putus asa. Ingatlah janji Allah bagi orang-orang yang sabar, mereka akan mendapatkan keberkahan, rahmat, dan petunjuk.
3. Selalu Bersyukur dalam Segala Keadaan
Meskipun sedang diuji, selalu ada celah untuk bersyukur. Syukuri nikmat sehat yang masih ada, syukuri keluarga yang menyayangi, syukuri iman yang masih bersemayam di dada. Dengan bersyukur, hati kita akan dipenuhi ketenangan, melihat setiap kejadian dari sudut pandang positif, dan menyadari bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan.
4. Tawakal Sepenuhnya kepada Allah
Setelah berusaha semaksimal mungkin, serahkanlah segala urusan kepada Allah SWT. Tawakal adalah penyerahan diri yang total, meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baik perencana. Hati yang bertawakal tidak akan gelisah dengan hasil akhir, karena ia yakin apapun ketetapan Allah adalah yang terbaik baginya.
5. Berprasangka Baik (Husnuzhon) kepada Allah
Jangan pernah berburuk sangka kepada Allah atas takdir yang menimpa. Yakinlah bahwa setiap ujian mengandung hikmah dan kebaikan yang mungkin tidak kita sadari saat ini. Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
6. Muhasabah dan Introspeksi Diri
Ujian bisa jadi adalah teguran dari Allah agar kita kembali kepada-Nya, mengevaluasi diri, dan memperbaiki hubungan kita dengan Sang Pencipta. Jadikan momen ujian sebagai kesempatan untuk bermuhasabah, merenungi kesalahan, dan meningkatkan ibadah.
Hadirin jamaah Jumat yang mulia,
Menata hati di tengah ujian kehidupan adalah sebuah seni dan perjuangan. Ini membutuhkan keimanan yang kokoh, kesabaran yang tiada batas, dan tawakal yang sempurna. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan untuk menjalani setiap episode kehidupan dengan hati yang tenang, sabar, dan penuh keimanan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua