Meneladani Rasulullah ﷺ sebagai Rahmat bagi Seluruh Alam
(Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ)
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah
Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam, yang telah
melimpahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam,
dan nikmat berkumpul dalam suasana penuh berkah
untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, manusia agung yang
dengan akhlaknya mampu mengubah wajah dunia,
mengangkat manusia dari jurang kehinaan menuju
kemuliaan, dari kegelapan menuju cahaya iman.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Maulid Nabi ﷺ bukan
sekadar mengenang tanggal kelahiran, bukan pula hanya
tradisi turun-temurun. Maulid adalah momentum untuk
bertanya kepada diri kita masing-masing:
*Sudah sejauh mana Nabi Muhammad ﷺ hadir dalam
kehidupan kita?*
Apakah beliau hanya hadir dalam shalawat di lisan,
atau benar-benar hidup dalam akhlak, sikap, dan
perilaku kita sehari-hari? Karena cinta sejati kepada
Rasulullah ﷺ tidak cukup diucapkan, tetapi harus
dibuktikan dengan keteladanan.
Dunia Sebelum Kelahiran Rasulullah ﷺ
Sebelum kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, dunia berada
dalam masa yang disebut sebagai zaman jahiliyah.
Bukan karena manusia tidak pintar, tetapi karena
kehilangan arah hidup dan nilai moral.
Manusia menyembah berhala hasil ciptaan tangannya
sendiri. Yang kuat menindas yang lemah. Anak perempuan
dikubur hidup-hidup. Minuman keras dianggap kebanggaan.
Zina dan kezaliman menjadi budaya.
Di tengah kegelapan itulah Allah SWT menghadirkan
seorang bayi bernama Muhammad ﷺ, bukan dari
keluarga bangsawan, bukan pula dari kalangan penguasa,
tetapi dari keluarga yang Allah siapkan untuk memikul
amanah besar perubahan peradaban.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad),
melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Ayat ini bukan sekadar pujian, tetapi pernyataan misi.
Rasulullah ﷺ adalah rahmat bagi seluruh alam:
rahmat bagi yang miskin, rahmat bagi yang tertindas,
bahkan rahmat bagi musuh-musuhnya.
Akhlak Rasulullah ﷺ yang Mengubah Dunia
Hadirin yang dimuliakan Allah, senjata terbesar Rasulullah ﷺ
bukan pedang, bukan harta, bukan kekuasaan,
melainkan akhlak. Akhlak inilah yang menembus hati
manusia dan meluluhkan kekerasan jahiliyah.
Beliau jujur sehingga dijuluki Al-Amin. Beliau pemaaf
meski disakiti. Beliau lembut meski dihina. Bahkan ketika
ditawarkan malaikat untuk membinasakan penduduk
Thaif, beliau justru berdoa agar mereka diberi hidayah.
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Inilah inti Maulid Nabi ﷺ. Jika umat Islam rajin bershalawat
tetapi lisannya kasar, tangannya zalim, dan hatinya
penuh kebencian, maka ada yang salah dalam memahami
makna Maulid.
Akhlak Rasulullah ﷺ seharusnya hidup dalam rumah tangga,
dalam bermasyarakat, dalam berdagang, dalam memimpin,
dan bahkan dalam berbeda pendapat.
Maulid Nabi ﷺ dan Tantangan Zaman Sekarang
Hadirin sekalian, tantangan umat hari ini bukan lagi
penyembahan berhala batu, tetapi penyembahan ego,
harta, dan popularitas. Akhlak semakin tergerus oleh
emosi dan kepentingan pribadi.
Media sosial dipenuhi hujatan. Perbedaan pendapat
berubah menjadi permusuhan. Persaudaraan rusak
karena hal-hal sepele. Di sinilah Maulid Nabi ﷺ menjadi
sangat relevan.
Jika Rasulullah ﷺ hadir di tengah kita hari ini, akhlak
beliau akan menjadi solusi: lembut tapi tegas, santun
tapi prinsipil, penuh kasih tapi tidak kompromi dengan
kezaliman.
Penutup dan Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُحِبِّينَ لِنَبِيِّكَ
وَالْمُتَّبِعِينَ لِسُنَّتِهِ
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang
yang mencintai Nabi-Mu dan mengikuti sunnahnya.”
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَخْلَاقَنَا
وَاجْمَعْ قُلُوبَنَا
وَاحْفَظْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ﷺ
Artinya: “Ya Allah, perbaikilah akhlak kami, satukanlah
hati kami, dan jagalah umat Muhammad ﷺ.”
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri