Menjaga Lisan dan Etika Sosial dalam Kehidupan Sehari-hari
Lisan adalah nikmat besar yang Allah SWT berikan kepada
manusia. Dengan lisan, manusia dapat berkomunikasi,
menyampaikan kebaikan, menasihati, dan mengajak kepada
jalan yang benar. Namun pada saat yang sama, lisan juga
dapat menjadi sumber kerusakan apabila tidak dijaga
dengan baik.
Banyak konflik keluarga, perselisihan masyarakat, bahkan
perpecahan umat bermula dari ucapan yang tidak dijaga.
Kata-kata yang keluar dari lisan seringkali lebih melukai
daripada perbuatan fisik. Oleh sebab itu, Islam memberikan
perhatian besar terhadap adab berbicara dan etika sosial.
Landasan Al-Qur’an tentang Menjaga Lisan
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: “Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkannya
melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu
siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap kata yang keluar dari
mulut manusia tidak pernah sia-sia. Semuanya dicatat dan
akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran ini seharusnya
membuat seorang muslim berhati-hati sebelum berbicara,
terutama ketika sedang emosi atau berbeda pendapat.
Landasan Hadis tentang Bahaya Lisan
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau
diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan kaidah sederhana namun sangat
mendasar dalam etika berbicara. Jika ucapan membawa
kebaikan, maka sampaikanlah. Namun jika ucapan berpotensi
menyakiti, menimbulkan fitnah, atau memperkeruh suasana,
maka diam adalah pilihan terbaik.
Bentuk-bentuk Lisan yang Tidak Terjaga
(1) Berkata kasar dan menyakiti perasaan orang lain.
(2) Menggunjing dan membicarakan aib orang lain.
(3) Menyebarkan berita bohong atau belum jelas kebenarannya.
(4) Merendahkan, menghina, atau mencemooh sesama.
(5) Mengadu domba yang merusak hubungan sosial.
(1) Berkata kasar dan menyakiti perasaan orang lain.
(2) Menggunjing dan membicarakan aib orang lain.
(3) Menyebarkan berita bohong atau belum jelas kebenarannya.
(4) Merendahkan, menghina, atau mencemooh sesama.
(5) Mengadu domba yang merusak hubungan sosial.
Islam melarang seluruh bentuk ucapan tersebut karena
dampaknya sangat merusak hubungan antarindividu dan
keharmonisan masyarakat. Banyak dosa besar berawal dari
lisan yang tidak dikendalikan.
Etika Sosial dalam Islam
Etika sosial adalah adab seorang muslim dalam berinteraksi
dengan orang lain. Islam mengajarkan untuk bersikap
lemah lembut, menghormati perbedaan, dan menjaga
perasaan sesama. Akhlak yang baik dalam bermasyarakat
adalah cerminan dari keimanan seseorang.
Pengaruh Media Sosial terhadap Lisan
Di era digital, lisan tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga
tulisan, komentar, dan unggahan di media sosial. Setiap
tulisan memiliki dampak yang sama dengan ucapan lisan.
Oleh karena itu, etika berbicara juga berlaku dalam dunia
digital.
Seorang muslim harus bijak dalam menggunakan media
sosial, tidak mudah terpancing emosi, dan tidak menyebarkan
konten yang mengandung kebencian, fitnah, atau provokasi.
Dampak Menjaga Lisan
Menjaga lisan akan melahirkan ketenangan dalam diri,
keharmonisan dalam keluarga, serta kepercayaan dalam
masyarakat. Orang yang lisannya terjaga akan dihormati
dan dipercaya oleh lingkungannya.
Doa Agar Dijaga Lisan
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ
وَاجْعَلْ كَلَامَنَا ذِكْرًا وَحِكْمَةً
Artinya: “Ya Allah, jagalah lisan kami dari dusta dan
ghibah, dan jadikanlah ucapan kami sebagai zikir dan
hikmah.”
Semoga dengan menjaga lisan dan etika sosial, Allah SWT
menjadikan kita pribadi yang membawa ketenangan,
kedamaian, dan kebaikan di mana pun kita berada.
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri