Tahun Baru Hijriyah
Muhasabah Diri dan Menata Ulang Arah Hidup
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang masih memanjangkan umur kita,
mempertemukan kita dengan pergantian tahun Hijriyah,
dan memberikan kesempatan baru untuk memperbaiki
diri sebelum datangnya ajal.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau,
para sahabat, serta seluruh umatnya yang menjadikan
waktu sebagai ladang amal dan bekal menuju akhirat.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Tahun Baru Hijriyah bukan
sekadar pergantian kalender Islam. Ia adalah pengingat
bahwa umur kita berkurang, waktu kita terus berjalan,
dan kesempatan kita semakin mendekat kepada akhir
perjalanan hidup.
Setiap pergantian tahun sejatinya membawa satu pesan
besar: **apakah kita semakin dekat kepada Allah, atau
justru semakin jauh?**
Waktu adalah Modal Kehidupan
Islam memandang waktu sebagai nikmat yang sangat
mahal. Banyak manusia tertipu oleh panjangnya angan,
hingga lupa bahwa setiap detik yang berlalu tidak akan
pernah kembali.
Allah SWT bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur’an,
menandakan betapa pentingnya amanah ini dalam hidup
manusia. Orang yang menyia-nyiakan waktu sejatinya
sedang menyia-nyiakan hidupnya sendiri.
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar
berada dalam kerugian.”
(QS. Al-‘Asr: 1–2)
Kerugian terbesar manusia bukan kehilangan harta atau
jabatan, tetapi kehilangan waktu tanpa amal yang
bernilai di sisi Allah SWT.
Muhasabah Diri sebagai Ciri Orang Beriman
Hadirin yang dirahmati Allah, orang beriman tidak menunggu
mati untuk dihitung amalnya. Ia menghitung dirinya
sendiri sebelum dihisab oleh Allah SWT.
Tahun Baru Hijriyah adalah momen terbaik untuk
bermuhasabah: tentang shalat kita, tentang akhlak kita,
tentang tanggung jawab kita sebagai hamba, sebagai
orang tua, sebagai anak, dan sebagai anggota masyarakat.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata agar setiap
muslim menghisab dirinya sebelum dihisab, dan menimbang
amalnya sebelum ditimbang oleh Allah SWT.
Muhasabah bukan untuk putus asa, tetapi untuk bangkit.
Bukan untuk menyesali masa lalu tanpa harapan, tetapi
untuk menata masa depan dengan lebih baik.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan
apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Menata Niat dan Arah Hidup di Tahun Baru
Tahun Baru Islam seharusnya melahirkan tekad baru.
Bukan sekadar resolusi dunia, tetapi resolusi akhirat.
Bukan hanya ingin sukses, tetapi ingin selamat.
Menata ulang arah hidup berarti menjadikan ridha Allah
sebagai tujuan utama. Dunia bukan ditinggalkan, tetapi
diletakkan di tangan, bukan di hati.
Hijrah sejati di tahun baru adalah hijrah dari hidup yang
asal berjalan menuju hidup yang terarah dan bermakna.
Langkah Praktis Menyambut Tahun Baru Hijriyah
(1) Memperbaiki kualitas shalat dan ibadah wajib.
(2) Menjaga lisan, hati, dan pergaulan.
(3) Memperbanyak taubat dan istighfar.
(4) Menambah amal sosial dan kepedulian.
(5) Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
(1) Memperbaiki kualitas shalat dan ibadah wajib.
(2) Menjaga lisan, hati, dan pergaulan.
(3) Memperbanyak taubat dan istighfar.
(4) Menambah amal sosial dan kepedulian.
(5) Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Penutup dan Doa
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا
وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا
Artinya: “Ya Allah, berkahilah umur kami dan jadikanlah
amal terbaik kami di akhir kehidupan kami.”
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى
وَاجْعَلْ أَيَّامَنَا فِي طَاعَتِكَ
Artinya: “Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan kebaikan
dan jadikan hari-hari kami dalam ketaatan kepada-Mu.”
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri