Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ
Penguatan Iman di Tengah Ujian Kehidupan
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mengatur takdir kehidupan
manusia, yang Maha Mengetahui setiap luka, setiap air
mata, dan setiap doa hamba-Nya.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, seorang rasul yang
tidak hanya diuji dengan penolakan dan penderitaan,
tetapi juga dimuliakan dengan peristiwa Isra Mi’raj
sebagai penguat hati dan iman.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Isra Mi’raj bukan sekadar
kisah perjalanan luar biasa, tetapi pesan mendalam
bahwa setelah kesulitan yang panjang, Allah selalu
menyediakan penguatan bagi hamba-Nya yang bersabar.
Peristiwa Isra Mi’raj terjadi bukan saat Rasulullah ﷺ
bahagia, tetapi ketika beliau berada dalam fase paling
berat dalam hidupnya. Inilah pelajaran besar bagi kita:
Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang setia.
Isra Mi’raj Datang Setelah Ujian Terberat
Tahun sebelum Isra Mi’raj dikenal sebagai ‘Aamul Huzn,
tahun kesedihan. Rasulullah ﷺ kehilangan istri tercinta
Khadijah radhiyallahu ‘anha, sosok yang menjadi penguat
jiwa dan pendamping dakwah. Tidak lama setelah itu,
beliau kehilangan Abu Thalib, pelindung dakwah dari
ancaman Quraisy.
Ujian Rasulullah ﷺ tidak berhenti di situ. Perjalanan ke
Thaif berakhir dengan penolakan, caci maki, dan lemparan
batu hingga tubuh beliau berdarah. Namun dari lisan
beliau tidak keluar kutukan, melainkan doa.
Inilah gambaran bahwa orang yang paling dicintai Allah
justru diuji paling berat. Maka ketika hidup kita diuji,
jangan buru-buru berprasangka buruk kepada Allah.
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)
Isra Mi’raj adalah bukti nyata ayat ini. Setelah kesedihan
yang mendalam, Allah memperjalankan Rasulullah ﷺ
untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Isra Mi’raj sebagai Penguatan Iman dan Jiwa
Hadirin yang dirahmati Allah, Isra Mi’raj mengajarkan
bahwa iman bukan hanya diuji oleh logika, tetapi juga
oleh kepercayaan penuh kepada Allah SWT.
Ketika Rasulullah ﷺ menceritakan peristiwa Isra Mi’raj,
banyak orang yang mengejek dan mendustakan. Namun
orang-orang beriman justru semakin yakin, termasuk
Abu Bakar Ash-Shiddiq yang langsung membenarkan
tanpa ragu.
Isra Mi’raj adalah pendidikan iman: bahwa tidak semua
yang benar harus masuk akal menurut logika manusia.
Ada wilayah iman yang hanya bisa diterima dengan
keikhlasan dan keyakinan.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا
مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
Artinya: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan
hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke
Masjidil Aqsha.”
(QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Isra Mi’raj adalah kehendak
Allah semata. Ketika iman kuat, maka hati akan tenang
meskipun akal tidak mampu menjangkaunya.
Shalat sebagai Hadiah dan Penopang Kehidupan
Puncak Isra Mi’raj adalah perintah shalat. Ini bukan
kebetulan. Allah SWT tidak memberi hadiah berupa harta
atau kekuasaan, tetapi shalat sebagai penopang iman
dan jiwa manusia.
Shalat adalah tempat manusia mengadu, menangis,
bersyukur, dan berharap. Ketika hidup terasa berat,
shalatlah yang seharusnya menjadi tempat kembali,
bukan pelarian kepada hal-hal yang merusak diri.
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Artinya: “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14)
Jika shalat ditegakkan dengan kesadaran dan kekhusyukan,
maka ia akan menjadi sumber kekuatan, ketenangan,
dan penjaga akhlak.
Penutup dan Doa
اللَّهُمَّ قَوِّ إِيمَانَنَا
وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا
عِنْدَ الْفِتَنِ
Artinya: “Ya Allah, kuatkanlah iman kami dan teguhkanlah
hati kami saat menghadapi berbagai fitnah.”
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الصَّلَاةَ مَلْجَأَنَا
وَسَبِيلَ رَاحَتِنَا
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah shalat sebagai tempat
kembali kami dan jalan ketenangan hidup kami.”
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri