Home Playlist Login
Ceramah 01 Jan 2026

Puasa Sunnah

Simpan

Dalil & Referensi

Hadits Qudsi tentang Keutamaan Puasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Allah 'azza wa jalla berfirman:

“Segala amal anak Adam (pahalanya) dilipatgandakan. Satu kebaikan diberi sepuluh kali ganda hingga tujuh ratus kali ganda, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.”

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabbnya. Dan sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi.”

(Hadits Riwayat Muslim No. 1151)

Dalil ini menjadi fondasi utama betapa agungnya puasa, baik wajib maupun sunnah, di sisi Allah SWT, karena ia adalah ibadah yang bersifat rahasia dan langsung dibalas oleh-Nya tanpa batasan hitungan.

I. Pengantar: Mendekat Melalui Nafilah (Ibadah Sunnah)

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, seringkali kita berfokus pada ibadah wajib—salat lima waktu, zakat, puasa Ramadhan. Namun, keindahan Islam terletak pada peluang tanpa batas untuk meraih cinta-Nya melalui ibadah-ibadah sunnah, atau yang disebut Nafilah. Di antara ibadah nafilah yang paling mulia dan memiliki keutamaan tak terhingga adalah Puasa Sunnah.

Puasa sunnah adalah 'pagar pengaman' bagi puasa wajib kita. Ia adalah penambal bagi setiap kekurangan, kelalaian, atau kekhilafan yang mungkin terjadi saat kita menjalankan kewajiban. Ia adalah tanda kesungguhan seorang hamba untuk senantiasa berada di sisi Al-Ghafur (Yang Maha Pengampun).

II. Mengapa Puasa Sunnah Menjadi Puncak Keintiman?

Puasa sunnah memiliki kedudukan istimewa karena beberapa alasan mendalam:

  • Pintu Kecintaan Allah: Dalam Hadits Qudsi, Allah berfirman: 'Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.' (HR. Bukhari). Puasa sunnah adalah jembatan menuju derajat dicintai Allah, bukan hanya diridhai.
  • Persiapan Menuju Ar-Rayyan: Rasulullah SAW menyebutkan bahwa di surga terdapat sebuah pintu khusus yang dinamakan Ar-Rayyan, yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang gemar berpuasa. Pintu ini akan memanggil ahli puasa, baik wajib maupun sunnah, pada hari Kiamat.
  • Latihan Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa): Puasa melatih kita untuk meninggalkan hal-hal yang hakiki (makan dan minum) demi ketaatan. Jika kita mampu menahan yang hakiki, kita pasti akan lebih mampu menahan yang haram. Ini adalah kontrol diri yang sesungguhnya.

III. Ragam Puasa Sunnah Pilihan dan Keutamaannya

Sebagai seorang muslim yang mendambakan keutamaan, penting bagi kita untuk mengenal dan mengamalkan beberapa jenis puasa sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW:

  • Puasa Senin dan Kamis

    Ini adalah puasa yang paling mudah untuk diistiqamahkan. Rasulullah SAW bersabda: 'Amal-amal perbuatan diperlihatkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis. Maka aku suka jika amalanku diperlihatkan sedang aku berpuasa.' (HR. Tirmidzi).

  • Puasa Ayyamul Bidh (Hari-hari Putih)

    Yaitu berpuasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah. Keutamaannya sangat besar: 'Puasa tiga hari pada setiap bulan sama seperti puasa setahun penuh.' (HR. Bukhari & Muslim). Ini adalah investasi spiritual jangka panjang yang ringan namun pahalanya luar biasa.

  • Puasa Daud (Puasa Terbaik)

    Puasa Nabi Daud AS adalah puasa sehari dan berbuka sehari. Rasulullah SAW bersabda: 'Sebaik-baik puasa adalah puasa Daud.' (HR. Bukhari & Muslim). Puasa ini mengajarkan keseimbangan sempurna antara hak diri (tubuh) dan hak Rabb (ibadah), serta membutuhkan ketekunan spiritual yang tinggi.

  • Puasa di Bulan Muharram

    Terutama Puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) yang menghapus dosa setahun yang lalu, dan Tasu'a (tanggal 9 Muharram) sebagai pembeda dari tradisi kaum Yahudi.

  • Puasa di Bulan Sya'ban

    Bulan yang sering dilalaikan oleh manusia. Rasulullah SAW paling banyak berpuasa di bulan Sya'ban, sebagai persiapan menyambut Ramadhan dan karena di bulan ini amalan diangkat kepada Allah.

IV. Implementasi Praktis dan Spiritualitas Puasa

Bagaimana kita mengintegrasikan ibadah mulia ini dalam kesibukan hidup kita?

1. Niat dan Konsistensi (Istiqamah)

Niat yang tulus adalah kunci. Jangan jadikan puasa sunnah sebagai beban. Mulailah dengan yang paling ringan, misalnya satu bulan sekali (Ayyamul Bidh), lalu tingkatkan menjadi Senin dan Kamis. Konsistensi dalam amal kecil lebih dicintai Allah daripada amal besar yang terputus-putus.

2. Memahami Fiqih Puasa

Penting untuk memahami bahwa puasa sunnah dapat dibatalkan (kecuali puasa qadha) jika ada keperluan mendesak atau jamuan, tanpa berdosa, karena hukumnya adalah sunnah. Ini menunjukkan keluwesan Islam. Namun, jika dibatalkan, kita kehilangan pahala pada hari itu.

3. Meningkatkan Kualitas Puasa (Puasa Hati)

Puasa sejati bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi menahan lisan dari ghibah, menahan pandangan dari maksiat, dan menahan hati dari iri dengki. Inilah yang disebut 'Puasa Khususul Khusus'. Jika kita berpuasa sunnah, kita harusnya lebih peka terhadap pergerakan hati kita.

4. Dampak Sosial (Empati)

Saat kita merasakan lapar dan haus di hari-hari biasa, empati kita terhadap fakir miskin yang sering kelaparan akan meningkat. Puasa sunnah menumbuhkan jiwa sosial, mendorong kita untuk berbagi saat berbuka dan mempererat silaturahim.

Penutup

Saudara-saudaraku yang budiman,

Puasa sunnah adalah undangan langsung dari Allah untuk meningkatkan derajat kita di sisi-Nya. Ia adalah tanda kematangan spiritual, bahwa kita tidak hanya memenuhi kewajiban minimal, tetapi berjuang mencari derajat Ihsan (kesempurnaan ibadah).

Jangan biarkan hidup kita berlalu tanpa investasi akhirat yang satu ini. Mulailah besok dengan niat yang tulus. Jadikanlah setiap hari yang cerah menjadi ladang pahala melalui menahan diri, menundukkan hawa nafsu, dan mengkhususkan diri untuk Rabbul 'Alamin.

Doa Penutup:

Ya Allah, Ya Rabb kami, Engkaulah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Terimalah amal puasa kami, baik yang wajib maupun yang sunnah. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa istiqamah dalam ketaatan. Bimbinglah hati kami menuju pintu Ar-Rayyan, dan pertemukanlah kami dengan Nabi-Mu Muhammad SAW di telaga Al-Kautsar. Ampunilah segala kelalaian kami. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Kembali ke Daftar

Diskusi

Ingin bergabung dalam diskusi?

Silakan login terlebih dahulu untuk menulis komentar.

Login Sekarang

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berbagi pemikiran!