10 Muharram (Hari ‘Asyura)
Refleksi Sejarah, Kesabaran Para Nabi,
dan Kepedulian Sosial Umat
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang mempertemukan kita dengan hari
yang agung, hari yang penuh sejarah, dan hari yang
mengandung banyak pelajaran besar bagi umat Islam,
yaitu tanggal 10 Muharram, yang dikenal sebagai Hari
‘Asyura.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau,
para sahabat, serta seluruh umatnya yang senantiasa
mengambil pelajaran dari sejarah dan menjadikannya
cermin untuk memperbaiki masa depan.
Hadirin yang dimuliakan Allah, 10 Muharram bukan hari
biasa. Ia adalah hari yang sarat dengan peristiwa besar
dalam sejarah para nabi, hari keselamatan, hari ujian,
dan hari kemenangan bagi orang-orang yang sabar dan
bertawakal kepada Allah SWT.
Keutamaan dan Makna Hari ‘Asyura
Hari ‘Asyura memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.
Pada hari ini, Allah SWT memberikan keselamatan kepada
para nabi-Nya dan menolong hamba-hamba-Nya yang
beriman setelah melewati ujian berat.
Di antara peristiwa besar yang terjadi pada 10 Muharram
adalah diselamatkannya Nabi Musa ‘alaihissalam dan
kaumnya dari kejaran Fir’aun, sebuah kemenangan iman
atas kezaliman dan kesombongan.
فَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ
Artinya: “Lalu Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-
pengikutnya, sedang kamu menyaksikan.”
(QS. Al-Baqarah: 50)
Peristiwa ini mengajarkan bahwa kezaliman tidak akan
pernah menang atas kebenaran, dan pertolongan Allah
akan datang kepada orang-orang yang bersabar.
Puasa ‘Asyura: Syukur dan Ketaatan
Hadirin yang dirahmati Allah, Rasulullah ﷺ sangat
menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari ‘Asyura.
Puasa ini bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi
bentuk syukur atas pertolongan Allah dan sarana
penghapus dosa.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa puasa ‘Asyura memiliki
keutamaan besar, yaitu menghapus dosa setahun yang
telah lalu, selama dosa-dosa besar dijauhi.
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ
أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ
أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya: “Puasa pada hari ‘Asyura, aku berharap kepada
Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.”
(HR. Muslim)
Puasa ‘Asyura juga mengajarkan kita untuk berbeda dengan
kebiasaan umat lain dengan cara berpuasa tanggal 9 dan
10 Muharram atau 10 dan 11 Muharram, sebagai bentuk
identitas dan ketaatan umat Islam.
Puasa adalah latihan kesabaran, pengendalian diri, dan
kepekaan sosial. Orang yang berpuasa diajak merasakan
lapar agar tumbuh empati kepada fakir miskin.
‘Asyura sebagai Momentum Kepedulian Sosial
Hari ‘Asyura juga dikenal di tengah masyarakat sebagai
hari kepedulian terhadap anak yatim dan kaum dhuafa.
Ini selaras dengan semangat Islam yang mengajarkan
kasih sayang dan empati kepada sesama.
Menyantuni anak yatim bukan hanya amalan sosial,
tetapi ibadah yang memiliki kedudukan tinggi di sisi
Allah SWT. Rasulullah ﷺ bahkan menjanjikan kedekatan
dengan beliau di surga bagi orang yang memuliakan
anak yatim.
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
Artinya: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim
akan bersama-sama di surga seperti ini.”
(HR. Bukhari)
‘Asyura seharusnya menggerakkan hati umat Islam untuk
lebih peduli, lebih dermawan, dan lebih peka terhadap
penderitaan sesama, bukan hanya pada hari ini, tetapi
dalam kehidupan sehari-hari.
Amal Nyata di Hari ‘Asyura
(1) Melaksanakan puasa ‘Asyura dan Tasu’a.
(2) Memperbanyak doa dan istighfar.
(3) Menyantuni anak yatim dan fakir miskin.
(4) Menanamkan nilai kepedulian dalam keluarga.
(5) Mengambil pelajaran dari sejarah para nabi.
(1) Melaksanakan puasa ‘Asyura dan Tasu’a.
(2) Memperbanyak doa dan istighfar.
(3) Menyantuni anak yatim dan fakir miskin.
(4) Menanamkan nilai kepedulian dalam keluarga.
(5) Mengambil pelajaran dari sejarah para nabi.
Penutup dan Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ
وَارْزُقْنَا قُلُوبًا رَحِيمَةً
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang
yang sabar dan karuniakanlah kepada kami hati yang penuh
kasih sayang.”
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَالِنَا
وَتَقَبَّلْ طَاعَاتِنَا
Artinya: “Ya Allah, berkahilah amal-amal kami dan
terimalah ketaatan kami.”
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri