Tanggung Jawab Moral di Era Digital
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia
berinteraksi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi.
Media sosial, aplikasi pesan, dan berbagai platform digital
memberikan kemudahan luar biasa, namun juga membawa
tantangan besar terhadap tanggung jawab moral manusia.
Di era digital, setiap orang dapat menjadi penyebar
informasi, pendapat, dan bahkan pengaruh. Oleh karena itu,
Islam menekankan pentingnya tanggung jawab moral agar
kemajuan teknologi tidak berubah menjadi sumber kerusakan
akhlak, perselisihan, dan fitnah di tengah masyarakat.
Landasan Al-Qur’an tentang Tanggung Jawab
وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ
Artinya: “Dan tahanlah mereka, sesungguhnya mereka
akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Ash-Shaffat: 24)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap perbuatan manusia,
termasuk aktivitas di dunia digital, tidak akan luput dari
pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Setiap unggahan,
komentar, dan pesan yang disebarkan akan dicatat dan
dipertanyakan kelak.
Landasan Hadis tentang Amanah
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap
kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang
dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa setiap muslim adalah pemimpin
atas dirinya sendiri. Di era digital, kepemimpinan ini
tercermin dari cara seseorang menggunakan teknologi,
apakah untuk kebaikan atau justru menimbulkan mudarat.
Bentuk Tanggung Jawab Moral di Dunia Digital
(1) Menyaring informasi sebelum membagikannya agar tidak menyebarkan hoaks atau fitnah.
(2) Menjaga adab dalam berkomentar dan berdiskusi, meskipun berbeda pendapat.
(3) Menghindari konten yang mengandung kebencian, provokasi, dan permusuhan.
(4) Menggunakan media digital untuk menyebarkan kebaikan, ilmu, dan inspirasi.
(5) Menjaga privasi diri dan orang lain dari penyalahgunaan.
(1) Menyaring informasi sebelum membagikannya agar tidak menyebarkan hoaks atau fitnah.
(2) Menjaga adab dalam berkomentar dan berdiskusi, meskipun berbeda pendapat.
(3) Menghindari konten yang mengandung kebencian, provokasi, dan permusuhan.
(4) Menggunakan media digital untuk menyebarkan kebaikan, ilmu, dan inspirasi.
(5) Menjaga privasi diri dan orang lain dari penyalahgunaan.
Islam melarang penyebaran berita tanpa tabayyun, karena
dapat menimbulkan kerusakan sosial yang luas. Dunia
digital yang tidak dibarengi tanggung jawab moral akan
menjadi ladang dosa yang terus mengalir.
Bahaya Penyalahgunaan Media Digital
Penyalahgunaan media digital dapat melahirkan kecanduan,
hilangnya empati sosial, dan rusaknya hubungan
antarmanusia. Banyak konflik bermula dari kesalahpahaman
di dunia maya yang kemudian merembet ke dunia nyata.
Oleh karena itu, setiap muslim harus mampu mengendalikan
dirinya dalam menggunakan teknologi, tidak larut dalam
emosi, dan selalu mempertimbangkan dampak dari setiap
tindakan digitalnya.
Membangun Etika Digital Islami
Etika digital Islami dibangun dengan niat yang baik, adab
yang santun, serta kesadaran bahwa Allah SWT selalu
mengawasi. Dengan etika ini, dunia digital dapat menjadi
sarana dakwah, silaturahmi, dan kebaikan bersama.
Doa Agar Dijaga dari Kesalahan di Dunia Digital
اللَّهُمَّ احْفَظْنَا مِنْ شَرِّ أَلْسِنَتِنَا وَأَقْلَامِنَا
وَاجْعَلْ مَا نَقُولُهُ وَنَكْتُبُهُ خَيْرًا
Artinya: “Ya Allah, jagalah kami dari keburukan lisan dan
tulisan kami, dan jadikan apa yang kami ucapkan dan
tuliskan sebagai kebaikan.”
Semoga Allah SWT membimbing kita agar menjadi pribadi
yang bertanggung jawab secara moral di era digital, mampu
menggunakan teknologi sebagai sarana kebaikan, serta
terhindar dari perbuatan yang merugikan diri sendiri dan
orang lain.
Disusun oleh:
Habib Ismail Al Qadri
Habib Ismail Al Qadri